Gubernur Bank Sentral SEACEN Cermati Arus Modal Asing
| Pepih Nugraha | Rabu, 15 Februari 2012 | 09:20 WIB

SEOUL, KOMPAS.com — Upaya otoritas moneter untuk mencermati dan menempuh kebijakan yang tepat dalam menghadapi arus modal asing berjangka pendek yang sifatnya spekulatif dianggap semakin penting, khususnya di tengah krisis global yang berkepanjangan saat ini.

Demikian salah satu kesimpulan sidang ke-31 gubernur bank sentral negara-negara anggota South East Asian Central Bank (SEACEN) yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan, 13-14 Februari 2012, sebagaimana dilaporkan salah satu anggota delegasi Indonesia, Junanto Herdiawan, kepada Kompas.com.

Krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat telah menyebabkan terjadinya perpindahan arus modal, khususnya yang berjangka pendek dan spekulatif, secara besar-besaran dan dalam waktu yang singkat. Hal tersebut pada gilirannya menyulitkan otoritas negara-negara, khususnya di Asia, dalam mengendalikan stabilitas makroekonomi.

Oleh karena itu, masing-masing negara kemudian berupaya melakukan berbagai kebijakan untuk mencegah dampak negatif dari berpindahnya arus modal. Namun, sebelum menempuh kebijakan, para gubernur bank sentral negara anggota SEACEN menggarisbawahi pentingnya koordinasi dan saling berbagi informasi antar-otoritas ekonomi di wilayah regional.

Dalam kesempatan sidang itu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyampaikan kepentingan Indonesia yang juga waspada pada isu arus modal asing yang bersifat spekulatif. Indonesia saat ini senantiasa berupaya mencegah dampak negatif dari pergerakan modal yang berlangsung cepat.

Darmin Nasution menyampaikan pengalaman Indonesia melakukan langkah-langkah kebijakan makroekonomi yang berhati-hati  dalam menjaga kestabilan makroekonomi, termasuk di dalamnya berbagai aturan terkait arus modal asing.

Satu kebijakan penting yang ditempuh adalah dengan menerapkan ”minimum holding period” atau batas minimum waktu kepemilikan untuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kebijakan tersebut mencegah investor asing untuk menanamkan dananya ke dalam SBI yang berjangka pendek. Penerapan kebijakan itu telah terbukti efektif dalam meredam masuknya dana asing jangka pendek yang sifatnya spekulatif. Di sisi lain, kebijakan itu mampu diterima publik tanpa adanya kekhawatiran akan terjadinya penerapan capital control.

Selain mencermati arus modal asing, para gubernur bank sentral anggota SEACEN menganggap penting upaya masing-masing negara anggotanya untuk mencermati berbagai faktor eksternal lainnya yang dapat meningkatkan risiko wilayah regional terhadap munculnya krisis. Berbagai hal tersebut, antara lain, reformasi struktural untuk menciptakan lapangan kerja, mencermati gelembung di harga aset, harmonisasi kebijakan moneter dengan fiskal dan stabilitas sistem keuangan, dan pentingnya kerja sama regional.

Sidang kali ini juga menyepakati masuknya Laos sebagai anggota ke-18 SEACEN. Dengan demikian, SEACEN kini menjadi forum kerja sama bank sentral negara-negara di Asia Pasifik yang beranggotakan 18 negara, yaitu Brunei, Kamboja, China, Fiji, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Papua Niugini, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Laos.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s