Rusia Penting sebagai Alternatif Sumber Ilmu Pengetahuan
Indra Akuntono | Kistyarini | Rabu, 29 Februari 2012 | 18:22 WIB
Shutterstock Ilustrasi

DEPOK, KOMPAS.com – Pemerintah harus meningkatkan jumlah beasiswa pelajar yang ingin melanjutkan studi ke Rusia. Selain unggul di banyak bidang pengetahuan, Rusia juga penting sebagai difersivikasi sumber ilmu pengetahuan bagi Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun mengatakan, dia akan terus melakukan diplomasi kreatif dengan pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sebagai palang pintu pendidikan nasional.

Ia menjelaskan, diplomasi yang akan dibangun dengan Kemdikbud diarahkan agar pemerintah Indonesia memaksimalkan jatah 45 slot beasiswa untuk pelajar Indonesia. Karena dalam dua tahun terakhir, Indonesia belum mampu memenuhi jatah beasiswa yang diberikan.

Dari 45 slot beasiswa, setidaknya Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar setengahnya saja. Menurutnya, salah satu alasan yang memicu tidak mampunya Indonesia memenuhi kuota beasiswa dari pemerintah Indonesia adalah stigma masa lalu yang terlanjur menilai Rusia sebagai negara komunis.

“Itulah kenapa saya akan melakukan diplomasi kreatif agar ada pertukaran pelajar dan sebagainya. Jangan terjebak stigma masa lalu,” kata Djauhari saat memberikan kuliah umum di Fakulktas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (29/2/2012).

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Penanggungjawab Pendidikan KBRI di Moscow, Aji Surya mengatakan, stigma masa lalu Indonesia kepada Rusia memberikan dampak yang lebih jauh.

Menurutnya, pemerintah Indonesia terkesan menutup Rusia sebagai difersivikasi sumber ilmu pengetahuan baru bagi Indonesia. Ia mengungkapkan, hal itu nampak dari berbedanya layanan beasiswa pelajar Indonesia di Rusia dengan pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa ke negara Eropa Barat.

Pemerintah Rusia setiap bulannya memberikan uang saku sekitar  30 – 50 dollar AS kepada setiap mahasiswa asing yang melanjutkan studi di sana. Padahal secara matematis jumlah tersebut jauh dari kata cukup. Karena para pelajar setidaknya memerlukan sekitar 200 dollar AS untuk memenuhi biaya hidupnya selama satu bulan.

Sedangkan untuk pelajar Indonesia yang mendapatkan beasiswa di negara Eropa Barat, pemerintah Indonesia memberikan uang saku yang jauh lebih mewah. Yaitu sekitar 900 dollar AS per bulan.

Karena itulah dia sangat berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan perhatian yang lebih kepada pelajar Indonesia. Baik yang telah menetap di sana untuk studi ataupun yang ingin memperoleh beasiswa.

“Perhatian nasional belum begitu tinggi. Rusia tak bisa dinafikkan dan kita sudah tertinggal jauh. Rusia itu sebagai difersivikasi sumber ilmu pengetahuan, dan itu tidak bisa ditutup,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s