Santosa Doelah Dikukuhkan Sebagai Empu Batik
| Jodhi Yudono | Rabu, 29 Februari 2012 | 16:31 WIB

 

SANTOSA DOELLAH

SOLO, KOMPAS.com–Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengukuhkan Haji Santosa Doellah sebagai empu batik karena karya pemilik perusahaan Batik Danar Hadi ini telah menjadi rujukan kalangan dunia pendidikan.

Di samping karyanya menjadi referensi kalangan dunia pendidikan dalam pengembangan ilmu batik, Santosa Doellah yang telah menciptakan kurang lebih 300 karya ini telah memenuhi enam kriteria penilaian,  kata Rektor ISI Surakarta T. Slamet Suparno di Solo, Rabu.

Slamet Suparno lantas memaparkan keenam kriteria itu, yakni mempunyai sejumlah karya, kepakaran, reputasi, cukup sarana dan prasarana, berkemampuan manajemen, dan memiliki kemauan untuk menjadi pendidik.

“Dengan demikian, ISI dalam mengangkat seorang empu batik bukan tanpa alasan,” kata Rektor dalam sambutan pengukuhan H. Santosa Doellah sebagai “Empu Batik” di Pendapa ISI Surakarta.

Ia mengatakan bahwa batik bukan hanya merupakan ranah seni rupa, melainkan ranah berbagai seni, seperti karawitan, pedalangan, tari, dan sastra.

Bahkan, lanjut dia, batik merupakan ranah budaya sehingga ISI Surakarta memerlukan seorang tokoh batik yang dapat diandalkan seperti Santosa Doellah.

Rektor ISI itu menginformasikan bahwa perguruan tingginya mulai tahun akademik 2011/2012 akan menyelenggarakan Program Studi (Prodi) Seni Batik, di samping prodi lain yang telah ada, seperti Prodi Seni Karawitan, Seni Pedalangan, dan Prodi Seni Tari.

Usai pengukuhan sebagai empu batik, Santosa Doellah mengatakan bahwa dirinya selalu berprinsip dalam melaksanakan pengelolaan pelestarian seni kerajian batik harus memenuhi dua aspek yang saling bersinergi, yaitu aspek teknologi dan aspek seni budaya.

Dalam pandangan Empu Batik itu, justru aspek seni budayanya inilah yang memberikan bobot pada batik sebagai warisan manusia Indonesia, sebagaimana yang dinyatakan oleh UNESCO. Dengan demikian, kata dia, sudah jelas bahwa negara lain tidak dapat mengklaim batik adalah milik mereka.

“Museum Batik Danar Hadi yang saya dirikan merupakan perwujudan akan kecintaan, kepedulian, dan obsesi saya terhadap pelestarian dan pengembangan seni batik di Indonesia,” kata Santosa Doellah.

Batik dengan segala seluk-beluknya telah menempuh perjalanan panjang sejak beberapa abad silam dalam kebudayaan Indonesia. “Wastra” (sehelai) batik dapat mengungkapkan berbagai hal, antara lain dari lingkungan mana berasal, siapa yang mengenakan, dalam kesempatana apa dikenakan, dan makna apa di balik pola dan ragam hias penyusunnya.

Sehelai batik, kata dia, bahkan berkemungkinan menyiratkan dinamika budaya melalui polanya tumbuh dan berkembang seirama dengan perjalanan waktu dan lingkungan.

“Dalam penelitian dan pengamatan saya, zaman dan lingkungan pun memengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya sehingga melahirkan berbagai jenis batik,” katanya.

Pemilik Perusahaan Batik Danar Hadi mengaku menekuni masalah batik sejak umur 15 tahun. Dan, pengalamannya itu diperoleh dari kakek dan neneknya R.H.Wongsodinomo.

Ia mulai berusaha batik setelah menikah dengan Hj. Danarsih Santoso pada tahun 1967 sampai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s