Target BI Terhadap Inflasi Tetap
Ester Meryana | Asep Candra | Senin, 5 Maret 2012 | 15:53 WIB

 

KOMPAS/PRIYOMBODO
Aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34-10201, Jakarta, Senin (27/2). Pemerintah tengah mempertimbangkan menaikkan harga BBM Rp 500 sampai Rp 2.500 per liter, termasuk mengkaji dampak sosial, politik, inflasi, dan daya beli masyarakat dari kebijakan tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menyatakan, Bank Indonesia tetap menargetkan angka 3,5-5,5 persen sebagai kisaran angka inflasi yang harus dicapai pada tahun 2012 ini. Angka tersebut tetap akan dicapai sekalipun ada perkiraan inflasi bisa naik seiring dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Itu (target angka inflasi) adalah sesuatu yang disepakati dengan pemerintah. Jadi target itu tetap akan dipakai. Bahwa kita bisa mencapainya atau tidak, itu nanti dijelaskan kepada publik. Apa alasannya,” ujar Darmin, usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (5/3/2012).

Darmin menuturkan, target inflasi tersebut tidak bisa diubah begitu saja. Itu merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban dari apa yang telah ditetapkan. Darmin pun bilang, terkait dengan perubahan inflasi seusai dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, BI bisa membuat perhitungannya. Akan tetapi, sekalipun hasil perhitungan berbeda dengan target, BI tetap tidak merubah targetnya.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012, kata dia, tercantum perkiraan angka inflasi dengan berbagai alternatif kenaikan harga BBM. “Kami bisa membuat perhitungan (angka inflasi karena kenaikan harga BBM). Tapi kalau target 4,5 persen plus minus satu (3,5-5,5 persen) nggak bisa diubah-ubah. Sudah disepakati dari awal, tinggal akuntabilitasnya kalau nanti tercapai atau tidak tercapai. Sudah janji sekian dari tahun lalu. Bahwa perkiraan tahun ini akan berbeda, nggak jadi masalah. Itu bisa dibuat. Di APBN-P juga nanti akan ada perkiraan berdasarkan perkembangan terakhir. Dari berbagai alternatif (kenaikan harga BBM) kita sudah melakukan perhitungan,” pungkas Darmin.

Untuk diketahui saja, pemerintah sedang mencari opsi yang terbaik dalam menaikkan harga BBM bersubsidi. Salah satu opsi yang telah diajukan pemerintah adalah menaikkan harga BBM menjadi Rp 6.000 per liternya. Jika harga BBM naik otomatis angka inflasi bertambah. Angka inflasi mencerminkan tingkat kenaikan harga secara keseluruhan di masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin menyatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jika jadi dilakukan bisa berdampak langsung dan tidak langsung kepada inflasi. “Jadi simulasi kita, setiap kenaikan Rp 500 itu maka akan terjadi inflasi langsung sebesar 0,31 persen. Kemudian yang tidak langsungnya itu sebesar 1,5-2 kali inflasi pengaruh langsungnya,” ujar Suryamin, di Jakarta, Kamis (1/3/2012).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s