Paksa Siswa Gigit Sepatu, Guru HM Dimutasi
Yatimul Ainun | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 9 Maret 2012 | 15:49 WIB
KOMPAS.com/Yatimul Ainun Kasek SMPN 7, Sumaryono, menunjukkan lembaran pernyataan sikap dari Hadi Muslik, bahwa tidak akan mengulanginya lagi dan sudah meminta maaf kepada orang tua siswa yang dipaksa menggigit sepatunya.Jumat (9/3/2012).

MALANG, KOMPAS.com – Guru SMPN 7 Kota Malang, HM, yang memaksa dua siswanya menggigit sepatu sebagai hukuman membuat keributan di kelas, mendapatkan sanksi tegas. HM langsung dimutasi dari sekolah tempatnya mengajar. Ia saat ini ditugaskan di Dinas Pendidikan Kota Malang, tanpa diberi jabatan.
Sanksi mutasi diberikan setelah ada mediasi antara pihak orangtua kedua siswa yang mendapatkan hukuman, guru HM, pihak sekolah SMPN 7 serta pihak Dinas Pendidikan Kota Malang. Mediasi tersebut dilakukan Jumat (9/3/2012) pagi, di SMPN 7, Jl Lembayung Bumiayu Kota Malang.

Menurut Kepala SMPN 7 Kota Malang, Sumaryono, dari kejadian tersebut, pihak sekolah langsung memberikan sanki kepada HM.

“Guru yang bersangkutan tidak diperbolehkan mengajar di kelas VIII B. Hanya boleh mengajar di kelas lain,” kata Sumaryono, Jumat (9/3/2012).

Tujuannya, jelas Sumaryono, agar siswa yang bersangkutan, Ahmad Jefri dan Amin Rais, tak trauma dengan kejadian tersebut. “Soal sanksi selanjutnya, kita serahkan ke Diknas. Karena Diknas yang berwenang memberikan sanksi,” lanjut Sumaryono.

Sementara itu, pengawas pembina SMP Negeri 7 Kota Malang, Syamsul Arifin mengatakan, Diknas Kota Malang, akan memberi sanki kedinasan kepada HM.

“Sanksi kedinasan itu akan berlaku mulai Senin (12/3/2012) mendatang,” ujar Syamsul.

Sanksi kedinasan tersebut berupa pemindahan HM ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang tanpa ada jabatan. “Soal jabatan di Kantor Dispendik nantinya, masih akan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki guru yang bersangkutan,” katanya.

Adapun HM, saat akan dikonfirmasi wartawan, tidak berada di sekolah. Ia hanya memberikan keterangan kronologis secara tertulis kepada pihak sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Sri Wahyuningtyas pun tak mau memberikan tanggapan terkait peristiwa ini. Seusai mediasi di SMPN 7 Kota Malang, ia terkesan menghindari media dengan langsung bergegas menuju mobil dinasnya dan meninggalkan sekolah.

Orangtua Ahmad Jefri, salah seorang siswa, Misnah mengisahkan, peristiwa itu diketahuinya setelah mendapatkan laporan dari putranya.

“Jefri lapor ke saya, bahwa ia disuruh gigit sepatu. Karena tidak mau gigit sepatunya, Pak Hadi langsung memukulkan sepatu yang dipegang Jefri ke pipi kiri Jeferi hingga memar,” katanya.

Lebih lanjut, Misnah mengatakan, setelah mediasi, pihaknya tak akan menuntut secara hukum kejadian tersebut. Pihaknya sudah menerima dan memaafkan HM. “Saya tak mau masalah ini berlarut-larut. Saya tak mau dipanggil ke sekolah terus menerus. Karena saya punya bayi kecil yang harus dirawat. Masalah ini sudah saya anggap selesai. Semoga tak diulangi lagi,” harap Misnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s